Part 1
"Masa muda, masa yang berapi-api.."
Begitulah petikan sebuah lagu yang sangat populer di negeri kita. Lagu milik sang Raja Dangdut negeri ini. Siapa yang tak kenal dengan Bang Haji Rhoma Irama?
Gue jujur saja tidak mengenal beliau. Bahkan bertemu dengan beliau pun sekali saja belum pernah. Tapi cukuplah kalo gue bilang gue mengenalnya dengan baik. Tak sedikit lagu-lagunya yang gue tahu, meskipun kalau disuruh menyanyi keseluruhan liriknya sebenarnya ngga hafal juga. Tapi biarlah.
Kabar akan ada konser dangdut di alun-alun kota membuat warga sumringah. Apalagi isunya, akan ada Bang Haji Rhoma Irama. Meskipun pada kenyataannya, isu itu hanyalah isapan jempol belaka. Konser dangdut yang dimaksudkan tadi rupanya adalah konser dangdut biasa, dengan artis wanita penyanyi lokal yang bersuara pas-pasan dan sengaja berpakaian minim demi menarik minat pengunjung. Sepertinya konser ini diadakan untuk promosi salah satu produk parfum. Bukan merk yang sudah menasional ataupun mendunia, tapi parfum yang sepertinya produk baru buatan lokal. Selain itu, ada juga sponsor dari salah satu merk rokok terkenal di tanah air.
Sebagai kaum muda yang bokek dan haus akan hiburan, gue dan beberapa kawan lama pun hadir di alun-alun malam itu. Tontonan gratis seperti ini adalah wadah bagi warga untuk keluar dari sarangnya.
Waktu itu gue sudah kuliah. Kebetulan sekali konsernya diadakan pas di malam saat gue sedang pulang kampung. Rejeki emang ngga kemana.
Alun-alun yang penuh sesak dengan warga, seketika heboh saat konser dimulai. Penyanyi-penyanyi yang terlihat seksi bergantian menyanyikan lagu-lagu dangdut. Suasana semakin ramai saat penyanyi menerima request lagu dari para penonton.
Gue yang sebenarnya tak terlalu tertarik dengan konsernya, hanya berdiri di tepi lapangan. Berusaha menjauh dari kerumunan orang-orang yang berjejal ingin mendekati panggung.
Gue kemudian berdiri di samping sebuah stand yang memang sengaja didirikan di pinggir lapangan. Nampaknya stand itu digunakan untuk berjualan.
"Ngga ikut joget-joget mas?" tanya seseorang yang sedang berjaga di stand itu. Gue menoleh ke arahnya, kemudian menggeleng.
"Ngga mbak.. pengen di pinggir aja.." jawab gue.
Lalu mbak itu menawarkan gue untuk jangan berdiri saja di samping stand, tapi untuk masuk ke dalamnya. Gue menurutinya.
Stand itu rupanya stand untuk jualan minuman ringan. Tak besar, hanya sekitaran 3 x 3 meter, dengan sebuah tenda meruncing yang dibangun di atasnya. Dibangun untuk menutupi kart-kart yang ditumpuk di sisi-sisinya membentuk dinding agak tinggi.
Melihat ada minuman dingin di sekitar gue, tergoda juga gue untuk membelinya. Akhirnya gue putuskan membeli sebotol coca-cola dingin untuk menemani malam yang panas ini. Panas karena melihat suasana dan aksi artis di atas panggung. Setelah itu, gue mengobrol saja dengan mbak penjaga stand ini. Tak lama berselang, seseorang datang mendekat.
"Mas, ada coca-cola dingin?" tanya suara itu ke gue.
Gue yang bingung kemudian menyodorkan botol cola gue kepada perempuan itu. Sekarang gantian perempuan itu yang bingung.
"Hmm.. itu udah diminum sama masnya.. maksudnya, yang baru mas.. yang masih fresh.." kata suara itu lagi.
Kami kemudian saling bertatapan dalam diam. Mungkin sama-sama bingung. Botol cola masih saja gue sodorkan ke hadapannya.
Lalu suara mbak penjaga stand itu memecah kebingungan kami.
"Ada mbak, coca-cola dingin." katanya. Lalu diambilkannya sebotol untuk si perempuan yang bingung ini.
"Maaf mbak, ini masnya bukan penjaga di sini. Dia juga barusan beli di sini." kata si mbak penjaga menjelaskan.
Mendengar itu, si perempuan pelanggan tadi langsung meng-o-kan penjelasannya, kemudian buru-buru meminta maaf gue karena menyangka gue salah satu penjual di stand ini.
"Habis bajunya samaan sih sama mbaknya.." kata perempuan itu.
Gue cuma memakluminya saja. Malam hari cahaya lampu tak begitu terang, pantaslah orang akan salah mengenali gue yang ternyata tengah memakai baju yang sekilas bermotif sama dengan pakaian si mbak penjaga stand. Bedanya gue menggunakan jaket di luarnya.
"Sorry ya mas. " kata perempuan itu lagi. Lalu berjalan dengan cepat menjauhi stand.
Satu hal yang membuat gue tiba-tiba tertarik dengan perempuan itu, adalah aroma wanginya yang mencuat setelah dia pergi. Wangi yang sama sekali tak bisa gue gambarkan. Wangi yang baru pernah gue dapati kali ini. Bukan wangi seperti kembang wangi orang mati itu, bukan. Seketika gue langsung mengejar perempuan tadi. Mudah-mudahan dia bukan hantu, batin gue.
Terlihat dia sedang berjalan pelan memunggungi gue, sambil sesekali dia menatapi panggung, kemudian menuju ke pinggir lapangan di sisi yang lain. Lalu gue panggil perempuan itu.
Tapi dia tak menoleh. Atau mungkin dia tak mendengarnya? Oh, pantaslah, suara musik dari panggung berdetak sangat keras ke seluruh penjuru lapangan. Sepertinya gue harus berteriak agar suara gue bisa terdengar. Namun hal itu gue urungkan. Gue segera mendekatinya dan menepuk bahunya sampai dia menoleh.
Dia memandang gue sekilas dengan tatapan curiga. Mungkin dikiranya gue adalah penjahat. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa gue adalah mas-mas yang barusan tadi. Dia lalu tersenyum.
"Eh mas yang tadi.." katanya
Gue cuma membalas senyumnya. Lalu berpolah seperti orang salah tingkah. Ah, bukan, bukan. Bukan berpolah, tapi gue emang beneran salah tingkah. Mau tau kenapa? Karena wanginya! Wangi perempuan ini benar-benar tak bisa digambarkan. Seperti aroma bunga tapi gue ngga tau bunga apa itu. Ini aroma terwangi yang pernah gue hirup.
"Mau... ngobrol sebentar?" tanya gue dengan salah tingkah.
Perempuan itu tak menjawab. Berpikir sejenak sambil tengok-tengok ke kanan ke kiri. Lalu dia mengisyaratkan tangannya agar gue mengikutinya. Kami lalu menjauh dari pinggir lapangan, menuju ke tempat yang tak ramai, dan mencari sebuah sudut agar kami bisa duduk.
"Ngobrol apa masnya?" tanya perempuan itu.
"Oh ngga papa mbak.. cuma penasaran aja tadi, parfumnya mbak wangi banget.." jawab gue dengan jujur. Dia lalu tertawa.
"Hahaha, naksir sama parfum aku mas?" tanyanya.
"Hmm.. engga gitu juga sih, tapi iya juga.. penasaran itu parfum apa.. soalnya baru pernah gue nyium yang sewangi kayak ini.." perempuan itu masih tertawa.
"Mau tau? Kasih tau ngga yaa.." candanya.
"Hmm.. atau jangan-jangan..." kata gue terpotong.
Saat itu langsung muncul dugaan gue. Jangan-jangan parfum ini adalah parfum yang baru dipromosikan itu? Parfum yang menjadi sponsor konser dangdut malam ini? Tapi belum juga gue mengutarakan tebakan gue itu, perempuan tadi berkata.
"Oh bukan, bukan mas. Parfum aku bukan parfum yang lagi iklan itu, bukan. Ini parfum aku udah lama kok, udah dari dulu." kata perempuan itu seakan tau dengan apa yang gue pikirkan.
Gue langsung meng-o-kan saja perkataannya.
"Eh iya by the way, what's your name, masnya?" tanya perempuan itu menjulurkan tangannya. Sorot matanya bersinar menatap gue. Bibirnya tersenyum sangat manis. Lalu diam menunggu jawaban gue.
"Oh I'm Syaiful.." jawab gue latah ikut-ikutan dengan gaya bahasa inggrisnya. Gue julurkan juga tangan gue dan kami bersalaman.
"I'm Free.." katanya.
"Yes?" tanya gue tak paham dengan kalimatnya.
"I'm Free.." ulangnya. Kini senyumnya semakin lebar.
Free? Apa maksudnya? Dia bebas? Apa dia ingin mengatakan bahwa malam ini dia sedang bebas? Bebas dari apa? Dari teman, dari keluarga, dari masalah, atau dari pekerjaan? Tapi pekerjaan apa yang membuat dia harus kerja sampai malam-malam? Oh, apakah jangan-jangan, kalau begitu, maksudnya dia bebas malam ini adalah karena... dia perempuan panggilan? Oh astaga!
Perempuan itu langsung menggoyang-goyangkan tangan gue.
"I'm Free.. my name is Free, Freesia.. you can call me Free.." lanjutnya lagi.
Oh ya ampun! Ternyata! Itu beneran namanya. Mendengar itu, gue semakin salah tingkah. Astaga, hampir saja gue berpikiran yang tidak-tidak terhadap perempuan ini.
"Oh, hahaha.. namanya Free? Kirain free apaan.. bebas gitu.." kata gue.
"Yee, emang free apaan yang dipikir masnya.." kata Free sambil memasang tatapan curiga. Kalau dilihat-lihat, perempuan ini cukup manis juga. Dengan wajah yang bersih, alis cukup tipis, dan senyum yang tak hilang dari bibirnya.
"Jangan panggil mas lah, gue masih muda kok.." kata gue.
"Emang berapa umur masnya?" tanyanya.
"Masih kuliah kok.. and you can call me Full, okay?"
"Fool? Bego dong."
"Hee, bukan Fool. Tapi Full. F-U-L-L, Full. Habisnya kan nama elo dipanggilnya Free-Free gitu. Jadi ya karena nama gue Syaiful, panggilnya jadi Full juga gitu, biar samaan."
"Idih masnya nyama-nyamain aja. Iya deh oke, mas Full.."
Dia lalu tertawa dan mengangguk-angguk sendiri.
"Okay, so you've too much Full and I have too much Free.." katanya pada dirinya sendiri.
Ngga paham gue dengan maksud ucapannya itu.
"Eh Full kuliah di mana by the way?"
"Di ibukota.." jawab gue singkat. Dia meng-o-kan jawaban gue.
Lalu kami saling bercerita. Dia berkata bahwa dia juga sedang kuliah di kota pelajar. Nampaknya kami seumuran. Dia sebenarnya asli dari tanah sunda, dan ingin kuliah di sekitaran Bandung saja. Namun karena kampus yang menerimanya ada di Yogyakarta, akhirnya terpaksa kini dia berada di sana. Sayangnya dia tak mau memberitahukan nama kampusnya. Mungkin dia malu karena dia cuma bisa masuk di kampus swasta.
Dan hari ini, dia rupanya tengah menemani salah satu temannya yang memang asli dari kota gue untuk pulang kampung. Dan karena kebetulan ada hiburan malam ini, maka keluarlah mereka ke sini. Dan di sinilah dia sekarang.
"Teman lu mana Free?" tanya gue.
"Paling lagi nonton tuh di sebelah sana.." katanya sambil mengarahkan dagunya ke sudut lain lapangan. "Biarlah, aku di sini aja dulu. Ngga terlalu suka juga sama dangdut sebenernya." lanjutnya.
Akhirnya kami pun melanjutkan mengobrol ringan, santai, dan seadanya saja. Free nampaknya seorang yang cukup terbuka untuk bercerita. Baru kenal dia sudah berani akrab, padahal gue mah siapa-siapanya juga bukan. Supel. Nyambungan. Tipe teman yang nyaman untuk diajak ngobrol berbagai macam topik. Dan dia selalu saja tersenyum saat bercerita. Itulah yang menbuat hati gue sedikit meleleh dibuatnya. Ditambah lagi dengan semerbak aroma wanginya yang beuuuh... bikin cowok klepek-klepek. Iyuuuh.
Sampai kemudian gue iseng menanyakan nomor kontaknya pada Free.
"Free, punya hape? Minta nomer hape boleh?" tanya gue sambil menyodorkan ponsel gue padanya.
"Hmm.. hape ada sih.." Lalu dia diam sejenak, seolah ragu untuk memberikan nomornya atau tidak.
Tapi dia lalu mengambil ponsel yang gue sodorkan, memencet beberapa tombol, dan kemudian memasang ponsel gue itu di telinganya.
"Trurururut.." sepertinya bunyi panggilan telepon yang tersambung. Freesia kemudian mengambil ponsel dari saku celananya, dan memperlihatkan layarnya kepada gue.
"Masuk kan?" tanyanya. Gue melihat nomor ponsel gue tertulis di layar ponselnya. Benar. Gue mengangguk, kemudian ponsel gue dikembalikannya.
"Itu nomerku. Kapan-kapan kalau mau ngobrol, sms aja. Kalo telpon mahal." katanya sambil tersenyum. Dia lalu beranjak dan berpamit diri, karena merasa ngga enak terlalu lama meninggalkan sisi temannya. Gue menganggukinya saja.
Sesaat kemudian, setelah berjalan beberapa langkah, dia berbalik lagi ke arah gue dan tangannya berdadah, lalu dia mengatakan sesuatu. Tak begitu jelas terdengar, tapi sekilas dia seperti berkata: bye bye, see you next time.
Dan dengan kepergiannya itu, satu hal yang tersisa darinya hanyalah aroma wangi parfumnya yang masih tertinggal. Dan juga senyum manisnya yang masih terus membekas di dalam pikiran.
*****
Part 2
Baru gue tahu kemudian bahwa Freesia itu adalah nama sebuah bunga. Nama yang tak begitu umum terdengar bagi orang-orang di negeri kita. Unik sekali namanya. Dan cantik sama seperti orangnya #Eh.
![]() |
| Bunga freesia. Buat aku yang ga paham soal bebungaan, susah untuk membedakannya dengan bunga crocus. sumber: wikipedia |
Sekali-dua kali, gue pernah mengobrol dengan Freesia lewat sms. Ngga sering, karena pada saat itu tarif sms masih muahal, tapi cukuplah itu untuk membuat kami merasa akrab satu sama lain. Hubungan kami yang seperti itu berjalan normal dan wajar-wajar saja. Tak ada yang berlebihan sama sekali. Dan pernah juga sekali waktu dia menelepon gue. Waktu itu dia berkata bahwa dia sedang menemani temannya itu lagi untuk pulang kampung ke kota gue, dan bertanya apakah gue sedang ada di rumah juga. Tapi tidak, waktu itu gue tidak pulang, gue sedang ada di ibukota. Dia berkata, kita bisa saja bertemu kalau saat itu ternyata gue sedang ada di rumah. Tapi sayang sekali gue saat itu tidak sedang pulang.
Ada sedikit rasa rindu sebenarnya untuk bertemu lagi dengan Freesia. Tapi tak apalah. Tidak masalah. Sama sekali tidak masalah. Masih ada waktu yang akan datang. Iya kan? Iya kan, Free?
Setelah telepon di malam itu, kami tidak sempat lagi untuk bertukar kabar. Bukan melupakan, tapi kami sama-sama tahu posisi kami yang sebagai mahasiswa, biaya untuk sms dan telepon yang masih mahal, kadang juga tugas kami yang menumpuk banyak, kadang sibuk ini, dan kadang sibuk itu. Lagipula, meskipun sebenarnya terasa akrab, sebetulnya kami sama-sama tak terlalu mengenal juga satu sama lain. Hanya pernah bertemu dan mengobrol satu kali saja di malam kami berkenalan dulu. Itu saja. Tak ada yang lain. Selebihnya, hanya sesekali lewat sms-sms saja. Kami tahu itu, dan itulah sebabnya kami sama-sama membatasi diri kami untuk tak berusaha terlalu jauh menyelami hubungan yang mungkin singkat itu.
Karena pertemanan seringkali bukanlah hal yang seperti itu. Bukan menjadi posesif dengan segala macam informasi harian tentangnya. Bukan menjadi pihak yang selalu merepotkan kapanpun dan dimanapun dia ada. Tapi menjadi seseorang yang bisa memberinya ruang, yang bisa memberinya waktu, untuk dia bisa mengembangkan dirinya dan mengerjakan apa yang disukainya. Kami ingin pertemanan kami adalah pertemanan yang seperti itu.
*****
Suatu sore di akhir bulan Mei 2006, sepulang dari kuliah gue langsung merebahkan diri ke atas kasur di kosan gue. Kulihat ponsel, ternyata ada 2 panggilan tak terjawab. Saat gue lihat nama si pemanggil: ternyata Freesia. Dua kali teleponnya gagal gue angkat. Gue bahkan tak sadar ada telepon masuk saat gue tadi di jalan pulang dari kampus.
Tumben, pikir gue. Gue menyangka Freesia hendak mengabari gue bahwa dia akan datang ke kota gue lagi, sama seperti dulu. Mungkin saja dugaan gue benar, karena hari itu adalah hari Jumat sore. Weekend adalah saatnya bagi para mahasiswa untuk pulang ke kampungnya. Dan saatnya pula bagi Freesia untuk ikut ngintil ke rumah salah satu temannya.
Tak lama kemudian, gue coba untuk menelepon balik Freesia. Tersambung. Namun sampai dua kali gue coba telepon, dua-duanya juga tak diangkatnya. Ah, mungkin dia sedang di jalan. Begitu pikir gue. Karena gue pun tadi begitu, tak sempat mengangkatnya karena sedang di jalan.
Baru pada malamnya, Freesia mengirimkan sms ke gue.
"M'f ga angkt..sibuk nugas td." katanya.
"Tumben telfon, sibuk jgn lupa makan. Gw kira lo ke kota gw lg." balas gue.
"Hehe gpp, lg pgn tlpn aj. G k kotamu kok. Ni mau ke B*nt*l mw main k tman. Mumpung weekend." balasnya lagi.
"Hati2." balas gue singkat. Lalu dibalasnya dengan kata yang lebih singkat: "Ya".
Itulah percakapan kami pada malam Sabtu di akhir Mei 2006.
Sabtu pagi, Sabtu di akhir pekan yang sebenarnya biasa saja. Tapi bagi gue, akhirnya! weekend datang juga! Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh kaum penghaus hiburan dan liburan seperti gue.
Setelah bangun dan membuka mata, kulihat jam pada ponsel nokia gue. Baru jam 7 lebih sedikit. Entahlah apa yang terjadi, tapi gue rasa, gue bisa bangun lebih segar jika di akhir pekan ketimbang bangun pada hari-hari masuk kuliah.
Segera gue pergi ke ruang tamu, menyambut teh manis yang selalu dibuat ibu kos setiap pagi untuk semua penghuni kos. Rupanya sudah ada dua kawan gue yang bangun dan duduk di sana. Mereka tengah menonton berita di televisi.
Gue raih secangkir teh manis yang masih utuh dan masih sambil ngumpul-ngumpulin nyawa, gue duduk bersama mereka. Agak lama gue diam dan memandangi layar televisi.
Dan saat itulah gue baru tersadar dengan berita yang ditayangkan di layar. Berita itu mengabarkan bahwa telah terjadi gempa di wilayah Yogyakarta dengan kekuatan 6 koma pada skala richter. Banyak rumah yang dikabarkan rusak karena kekuatan gempa yang cukup besar itu. Dan penyiar berita itu mengatakan bahwa mereka masih menunggu adanya kabar lebih lanjut tentang dugaan jumlah korban, termasuk korban jiwa.
Gue langsung sigap terbangun, segera berlari ke dalam kamar dan meraih ponsel gue. Jantung gue berdegup kencang. Langsung terbayang di pikiran gue tentang satu teman gue itu: Freesia. Dia di Yogyakarta, batin gue cemas. Dan barusan semalam dia memberikan kabar pada gue. Sesuatu yang tumben sekali.
Beberapa kali dihubungi, ponselnya tak bisa dicapai. Nampaknya ada beberapa kawasan yang mati sinyal di sana. Rasa cemas gue tak kunjung hilang sampai pada sore harinya, ternyata masih saja gue belum bisa menghubungi Freesia.
Tuhan, semoga dia baik-baik saja.
Sampai dengan dua hari setelahnya, tiga hari, lima hari, bahkan sampai seminggu, gue masih saja tak bisa menghubungi ponsel Freesia. Nomornya tidak aktif, atau berada di luar jangkauan. Padahal saat gue mencoba menghubungi teman gue yang lain di Yogya sana, bisa terhubung dan sudah lancar-lancar saja. Teman gue itu bilang, saat itu seharusnya ponsel sudah bisa untuk dihubungi lagi.
Sampai akhirnya gue berpikiran dan mengambil kesimpulan gue sendiri. Mungkin untuk selamanya gue tidak akan bisa menghubungi Freesia lagi.
Sejak hari itu, tak ada lagi kabar-kabar singkat dari Freesia. Baik dari sms-nya, maupun dari ketumbenan teleponnya. Waktu gue coba telepon dia, ternyata tak mencapai. Gue coba sms, ternyata tak sampai. Pending, dan ujungnya undelivered. Saat itu gue hanya bisa berprasangka saja.
Free, lo sehatkah di Yogya sana? Kenapa tidak pernah mengabari lagi?
Pikiran gue sempat berprasangka bahwa Freesia mungkin menjadi salah satu korban jiwa dalam bencana gempa di Yogya hari itu. Tapi gue takut dengan prasangka gue sendiri itu. Karena pada kenyataannya, gue sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dan tanpa gue sadari sebelumnya, gue merasa sangat merindukannya.
Oh Tuhan. Mungkin aku tak begitu mengenalnya. Aku pun hanya sempat satu kali bertemu dengannya. Dan bertukar kabar pun hanya sesempatnya. Tapi cukuplah semua itu untuk membuatku merasa khawatir kepadanya.
Tuhan, hanya Engkau yang tahu segala macam kebenaran. Hanya Engkau yang Mahatahu segalanya. Jikalau memang Freesia kini sudah berada di sisiMu, maka kutitipkan salamku untuknya, dan sampaikanlah padanya bahwa aku merindukannya. Tapi jikalau dia masih ada di Yogya sana, kutitipkan doaku semoga dia selalu sehat dan berada dalam lindunganMu, kapanpun dan dimanapun dia berada di dalam menjalani hari-harinya.
*****
Part 3
"Bang Iful, ngelamunin apaan bang?" tanyaku pada bang Syaiful, orang paling senior di kos-kosan ini. Dia sejak dari jaman kuliah sampai dengan mendapat kerja di sini, masih saja tak pindah-pindah dari kos-kosan ini. Alasannya karena kosan ini bikin betah. Ah dasar penghuni tua.
"Oh, Resyan. Kirain siapa." katanya singkat sambil menyeruput kopi itemnya. "Kopi Res?" lanjutnya.
"Lanjut lah Bang.." kataku padanya. Kulihat dia sedang membuka-buka artikel lama tentang gempa di Yogyakarta beberapa tahun yang lalu dari tabletnya. Dan itu cukup menarik perhatianku.
"Baca apaan Bang? Cerita dewasa yak?" tanyaku penasaran.
"Hush, sembarangan, emangnya elu bacaannya cerita dewasa." kata Bang Iful sambil menyorongkan mulutnya, mirip Suneo. "Ini nih Res, lagi baca berita lama aja, soal gempa Yogya." katanya.
"Hoo, kirain cerita dewasa. Emang kenapa Bang sama gempa di Yogya itu?" tanyaku kepo.
"Hahaha, ya ngga papa sih. Gue cuma kangen aja sama seseorang." katanya sambil menerawang jauh ke depan. Terlihat seperti ada rasa kehilangan yang dalam dari ucapannya itu.
"Hmm.. keluarga Abang? Afau jangan-jangan cewek Abang?" tanyaku semakin kepo.
"Temen Res, temen.. ah elah, cewek mulu yang ada di otak lo." jawabnya.
"Tapi temen Abang itu cewek kan?" tanyaku semakin mencecar.
"Yaa iya sih, cewek. Tapi kan cuma temen."
"Ya tapi tetep aja cewek."
Kemudian Bang Iful mencibir.
"Dia korban gempa Bang?" tanyaku lagi.
"Hmm.. sejujurnya sih gue ngga tau Res, dia itu korban apa bukan. Tapi yaa, gue nganggepnya begitu."
"Yailah kok elu jahat amat Bang. Masa' temen lu sendiri dianggap-anggapin jadi korban gempa gitu."
Bang Iful kemudian menghela nafasnya.
"Iya juga sih. Kok gue jahat ya, nganggep dia jadi korban.." renungnya.
"Lah emang dia di mana sekarang Bang?"
Dia kemudian menatapku.
"Nah itu dia Res.. gue sekarang ngga tahu dia ada di mana. Dulu, terakhir kali gue hubungan sama dia, itu persis semalem sebelum kejadian gempa ini. Dan setelah gempa, gue sama sekali ngga bisa ngehubungin dia. Sampai detik ini." jawabnya.
Aku tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Bang Iful itu.
Dia kembali merenung dan menerawang jauh ke depan. Diam, terbisu, dan terpancar rona sedih pada wajahnya.
"Udah nyoba samperin ke sono Bang?"
Dia menghela nafas lagi, dan tanpa menatapku, dia mengangguk. Dia sudah mencoba datang langsung ke Yogya sana, tapi dikatakannya percuma. Dia sama sekali ngga tahu di mana kampus temannya itu. Teman-teman yang dikenalnya di Yogya pun sudah ditanyainya, dan di kampus mereka tak ada seseorang yang bernama sama dengan nama teman Bang Iful itu. Padahal, kata Bang Iful, nama temannya itu adalah nama yang cukup unik untuk nama orang Indonesia.
"Emang siapa namanya Bang?" tanyaku kemudian.
"Freesia. Namanya Freesia." kata Bang Iful. Kemudian dia mulai menceritakan tentang temannya yang bernama Freesia itu, caranya berkenalan, caranya mulai berbincang, hingga bagaimana dia sangat tertarik dengan aroma wangi parfumnya yang unik itu.
![]() | |
| Bunga freesia putih. sumber: blognya Inge The freesias are said to symbolize innocence and friendship. |
Setelah selesai menceritakan kisahnya, Bang Iful kemudian duduk bersender di kursi rotan teras kos-kosan itu, kembali menerawang memandangi arah depan, pikirannya mungkin menembusi ruang dan waktu, menuju ke satu memori yang mengenang Freesia di saat malam konser itu.
"Bang Iful.." kataku membuyarkan lamunannya. Lalu dia menoleh ke arahku.
"Mungkin ya Bang.. bukannya gue sok tahu, sok ikut campur atau sok apapun itu, gue ngga tahu. Cuma kalo gue pikir nih ya Bang.. Freesia itu mungkin bukan nama asli dia." kataku pada Bang Iful. Saat mendengarnya, dia cukup terkaget dan langsung menghadapkan tubuhnya ke arah gue.
"Hah? Maksud elo gimana Res?"
"Maksud gue gini Bang.. sebelumnya gue tanya dulu, apa hal pertama yang bikin elo tertarik dengan cewek itu?"
Bang Iful terdiam.
"Karena wangi parfumnya kan?" lanjutku. Bang Iful mengangguk.
"Nah, jadi menurut gue tuh, waktu dia kenalan sama elu Bang, yang dia sebutin itu mungkin bukan namanya dia. Tapi saat itu yang dia kasih tahu ke Abang adalah aroma wangi dari parfumnya."
Bang Iful masih terdiam mendengarkan.
"Dan wangi parfum itu adalah wangi aroma bunga Freesia, Bang."
Bang Iful mulai menundukkan wajahnya, mungkin dia berpikir.
"Karena lo bilang waktu itu, lo cuma tertarik sama wangi parfumnya. Dan lagian bukan elo yang ngajak dia kenalan kan? Lo sendiri ngga nanya nama dia kan?"
"Hmm....."
"padahal kalo orang baru ketemu dan kenalan kaya gitu, yang pertama itu mesti nanya nama dulu Bang.."
"......"
"Nah mungkin dari situ, dia menyangka kalo elo ngga tertarik sama orangnya, elo ngga tertarik sama dia. Makanya dia inisiatif untuk ngasih tau ke elo nama wangi parfumnya itu. Dia berharap dengan elo tahu nama wangi parfumnya itu, elo bisa nyari sendiri parfum itu.. trus lo beli, dan mungkin, elo bisa ngasih parfum itu ke pacar elo atau ke siapapun orang tersayang elo.. biar bisa dipakai, dan lo bisa mencium wangi yang sama dengan malam itu. Wangi Freesia."
"......"
"Dengan begitu, elo bisa makin sayang kan sama pacar elo.. karena lo suka dengan wanginya.." kataku mengakhiri dugaanku. Aku mencoba untuk sedikit menenangkan Bang Iful yang kini terlihat mulai galau.
"Karena Freesia itu adalah salah satu bunga paling wangi yang pernah ada di dunia Bang." kataku melanjutkan.
Lalu Bang Iful menanyakan sesuatu yang tak bisa kujawab.
"Trus siapa nama dia yang sebenarnya Res?" tanya Bang Iful. Mukanya tiba-tiba menjadi merah. Aku hanya terdiam, karena aku tak tahu jawabannya.
"Ngga tau Bang.." jawabku pelan. "Lagian itu cuma dugaan gue aja Bang."
"......"
"......"
"Tapi bisa jadi Res, bisa jadi lu bener.. ah pantesan aja dicari-cari se-Yogya ngga nemu-nemu juga. Barang satu pun di kampus. Gue salah nama." terlihat dia seperti menyesali perbuatannya. Mungkin dia sama sekali tak berpikiran bahwa Freesia itu bukanlah nama asli. Dan mungkin juga, semua ini sudah terlambat.
"Tapi bisa jadi juga gue salah Bang.. bisa jadi Freesia itu beneran nama asli dia.."
Bang Iful kembali menghela nafas, dia lalu bangkit berdiri, dan berjalan menuju pagar pembatas kosan. Dipandanginya langit yang ada di atasnya. Putih, membentang luas, terlihat sunyi dalam menatapi dan memayungi kehidupan makhluk-makhluk kecil seperti manusia di bumi. Baginya, hanya langitlah saksi dari segala sesuatu yang telah terjadi.
Freesia sampai dengan saat ini tak diketahui di mana keberadaannya. Apakah dia salah satu korban dalam bencana bertahun lalu itu? Entahlah. Ataukah dia sebenarnya selamat, namun hanya saja sudah tak bisa lagi menghubungi Bang Iful--karena ponselnya rusak barangkali, atau karena nomor Bang Iful sudah tak lagi dimilikinya? Bisa jadi. Semua skenario masih bisa saja terjadi.
Dan dari kesemua skenario yang bisa disusun dan dipikirkan oleh manusia, hanya Tuhan-lah yang Mahatahu atas segala-galanya.
Dan sekian tahun berlalu setelah bencana gempa di Yogya yang merenggut lebih 6000-an korban jiwa itu, kini ada seorang lelaki yang hanya bisa merindu. Merindu pada sesuatu yang sampai kapanpun tak akan pernah ia tahu. Kini hanya doa-lah yang bisa dia panjatkan kepada Sang Mahakuasa. Semoga dia, di sana, masih baik-baik saja.
Salam Rindu dari Syaiful.
Teruntuk Freesia, Bunga Terharum yang Pernah Ada di Dunia.
Teruntuk Freesia, Bunga Terharum yang Pernah Ada di Dunia.


No comments:
Post a Comment